H1: Makanan Nusantara di Luar Angkasa: Gimana NASA dan SpaceX Bikin Rendang & Sate Buat Astronot

Makanan Nusantara di Luar Angkasa: Gimana NASA dan SpaceX Bikin Rendang & Sate Buat Astronot

Bayangin lagi ngambang di Stasiun Luar Angkasa Internasional, lihat Bumi dari kejauhan. Lalu… perut laper. Bukan steak atau bubur instan yang lo idam-in, tapi sepiring rendang yang empuk dan seporsi sate dengan bumbu kacang yang legit. Kok bisa? Ini bukan khayalan.

Ternyata, para ilmuwan di NASA dan SpaceX lagi serius ngejelajah kemungkinan ini. Mereka paham, makanan bukan cuma soal nutrisi. Tapi soal jiwa. Tantangannya? Gimana caranya bawa rasa rumah sampai ke ujung bintang, tanpa melanggar hukum fisika dan keamanan pangan di luar angkasa.

Rendang: Dari Padang ke Orbit Rendang

Rendang yang kita kenal punya tiga musuh bebuyutan di luar angkasa: kuah santan kental, serat daging yang alot, dan rempah yang bisa beterbangan.

  • Studi Kasus: Versi orbitalnya harus berubah total. Santan diolah jadi pasta semi-padat yang nggak bisa tumpah. Dagingnya? Bukan potongan, tapi dihaluskan lalu dicetak ulang dengan tekstur yang mirip, dimasak dengan teknik low-temperature yang lama biar empuk tanpa merusak nutrisi.
  • Kesalahan Awal: Percobaan pertama bikin rempah jadi bubuk kering yang bisa beterbangan dan nyumbat filter udara. Bahaya banget.
  • Solusi Teknologi: Rempah-rempah direkatkan ke “pasta santan” dengan pengental makanan khusus. Hasilnya? “Rendang bar” yang bisa dimakan dengan satu tangan, nggak berantakan, tapi (katanya) rasanya 85% mendekati aslinya. Lumayan, lah, daripada nggak sama sekali.

Sate: Tantangan Tusuk dan Bumbu Kacang

Sate itu kan bukan cuma daging, tapi pengalaman: ada tusukannya, ada acar, ada bumbu kacang yang dicocol. Nah, ini yang ribet.

  • Masalah Terbesar: Tusukan sate yang runcing itu safety hazard di gravitasi nol. Bisa melayang dan nyangkut di tempat yang nggak semestinya. Belum lagi bumbu kacang yang kental—gimana caranya biar nggak melayang-layang jadi butiran-butiran kecil?
  • Tips dari Lab NASA: Tusukannya diganti dengan tusukan yang ujungnya tumpul dan bisa dimakan, kayak semacam pretzel stick. Dagingnya dipotong kotak kecil dan sudah dimarinasi dalam bumbu yang meresap sampai ke dalam.
  • Inovasi Bumbu Kacang: Bumbu kacangnya diubah jadi semacam saus yang sangat lengket dan cohesive, hampir mirip peanut butter yang diformulasi ulang agar nggak pecah di udara. Dicocol? Nggak mungkin. Jadi dilumurin aja ke dagingnya sebelum dikemas.

Nasi dan Lauk Pendamping: Perjalanan Panas yang Mustahil

Makan rendang atau sate kan kurang tanpa nasi hangat. Tapi, “hangat” di luar angkasa itu konsep yang lain.

  • Data Realistis: Di ISS, tidak ada api kompor. Semua makanan dipanaskan dengan food warmer yang suhunya terbatas, biasanya maksimal 70-80°C. Jauh dari standard “mendidih” atau “panas-panas” di dapur kita.
  • Akibatnya: Nasi harus bisa “pulih” dengan sempurna hanya dengan air suhu ruangan atau pemanas terbatas. Tekstur jadi kunci. Ilmuwan pangan harus bereksperimen dengan jenis beras dan teknik pengeringan tertentu biar nasinya nggak jadi bubur atau malah keras.
  • Common Mistake: Awalnya, mereka cuma fokus ke rendang dan satenya aja. Ternyata, elemen pendukung seperti nasi dan acar timun justru sama pentingnya untuk menciptakan pengalaman makan yang utuh dan memuaskan secara psikologis bagi astronot.

Kesimpulan: Jiwa vs. Teknologi

Jadi, gimana? Apakah makanan Nusantara seperti rendang dan sate versi luar angkasa ini akan sama persis dengan yang kita makan di warung? Jujur, mungkin nggak.

Tapi intinya bukan di situ. Perjuangan para ilmuwan untuk membawa makanan Nusantara keluar Bumi ini membuktikan satu hal: kekuatan kuliner kita itu luar biasa. Sampai-sampai, untuk membuat astronot betah berbulan-bulan jauh dari rumah, mereka memilih rasa Indonesia sebagai penghibur rindu.

Ini adalah bentuk pengakuan tertinggi. Bahwa di antara semua pilihan makanan di dunia, makanan Nusantara dianggap layak untuk mewakili rasa “rumah” di tengah kegelapan luar angkasa. So, lain kali lo makan rendang, bayangin itu adalah sebuah masterpiece yang suatu hari nanti mungkin akan dinikmati sambil melihat pemandangan Bumi dari atas. Keren kan?